Jumat, 27 Juli 2012

Pahlawan Radin Intan II

Meski tidak setenar, teman seperjuangan.
Tak secuil pun mengurangi kagum dan kebanggaan.
Dari Radin Imba II, engkau di titiskan.
Dengan kakek, Radin Intan I, keberanian mu disetarakan.

Ratu darah putih, dan Tun penatih awal silsilah.
Melahirkan putra si Fatahillah.
Sang pembawa Islam
pelurus Aqidah.
Tampan rupawan lagi gagah.

Fatahillah yang agung.
Dari Banten, nama nya menggaung.
Pemimpin keratuan darah putih, di negeri Lampung.
Sekitar abad XVI, itu berlangsung.

Radin Intan I, itulah keturunan.
Berjuang dari 1751 hingga 1828.
Pusat keratuan, di kahuripan.
Penengahan, Lampung selatan.

Keras kepala, julukan Belanda.
Kepada Radin Intan I, nan perwira.
Dengan politic de vide et impera.
Perampas Cengkih, Kopi dan Lada.

Radin Intan I, wafat 1828.
Putra nya, Radin Imba II, menggantikan.
Sifat sang ayah di turunkan.
Radin Imba II pun, anti penjajahan.

Batin Mengunang, dan rakyat Semaka.
Bahu membahu dengan Radin Imba II.
Dibantu Kiai Arya nata braja.
Usir Belanda dengan segera.

Diteluk Lampung lakukan serangan.
Pasukan belanda dapat dikalahkan.
Asisten residen J.A Dubois meminta bantuan.
Dari Batavia serdadu di datangkan.

Letnan Kobuld dan kapten Hoffman pimpin pasukan.
Tiba di Kalianda, 1832 agustus, tanggal 8.
Pekon Negara putih dan kesugihan dibumi hanguskan.
Karena raden Imba tidak di ketemukan.

Daerah gunung Tanggamus, 9 september 1832.
Pertempuran sengit luar biasa.
Pimpin pasukan, Radin Imba dimuka.
Serdadu Belanda, habis binasa.

Pertempuran besar selanjutnya.
Benteng Raja Gepei menjadi saksi.
Radin Imba II dengan kekuatan nya.
Membuat kapten Beld houder dan kapten Pouwer mati.

23 sept 1834, para Syuhada akhirnya tertawan.
Kolonel Elout jadi pimpinan.
Benteng Raja Gepei pun, lepas dari tangan.
Mati surilah semua perlawanan.

Batin mengunang, dan kyai Arya natapraja.
Beserta Radin Imba dan istri tercinta.
Bersama pengikut setia, di asingkan ke Batavia.
Agar perlawanan Rakyat lampung tidak berdaya.

Kyai Arya nata praja dan Batin Mengunang.
Dibatavia mereka berpulang.
Lalu Radin Imba-2, ke pulau Timor dibuang.
Hingga akhir nya ajal menjelang.

Ratu Mas, istri tercinta.
Saat itu sedang hamil tua.
Lalu keLampung, di pulangkan Belanda.
Penjajah, yang akhirnya kembali berkuasa.

Inilah awal mulanya.
Kisah perlawanan gagah perkasa.
Dari Lampung, perlawanan nya.
Bergelar RADIN INTAN-II.

Radin Imba-2 dan Ratu Mas, orang tua nya.
Radin Intan I, kakek tercinta.
Lahir, 1831 di hutan rimba.
Dirawat dan dibesarkan, 'penuh rahasia'

sang anak yatim, Radin Intan-II.
Ikuti jejak, para leluhur nya.
Penerus dan pewaris tahta.
Berjuang sejak usia belia.

Benteng dan strategi kembali ditata.
Dari keratuan darah putih, semua bermula.
Meski senjata pedang, keris, dan badik saja.
Namun semangat juang, luar biasa.

Dengan tokoh penting jalin persahabatan.
Singa Branta, wak Maas, haji Wakhia serta marga Ratu dan daratan.
Tujuan nya tentu untuk menggalang kekuatan.
Oleh Belanda, ini sangat membahayakan.

Tahun 1851, Berkekuatan 400 serdadu.
Kapten Tuch, pemimpin kala itu.
Benteng Merambung, lalu di serbu.
Meskipun masih muda, Radin Intan-2 maju tak ragu.

10 agustus 1856, serdadu kembali didatangkan.
Dari Batavia, ekspedisi besar-besaran di datangkan.
Meriam besar, kapal perang, dan berbagai jenis peralatan diturunkan.
Mayor Van bostade, mayor Nauta dan kolonel Walleson pimpin pasukan.

Melalui daerah ujau dan Kenali.
Penyerangan 16 agustus 1856, itu terjadi.
Benteng Bendulu dikuasai.
Raden Intan-2 diminta menyerahkan diri.

Namun hanya berselang dua hari.
Benteng bendulu di rebut kembali.
Oleh pasukan Radin intan-2 yang gagah berani.
Sekitar jam 8 pagi, waktu negeri.

Benteng Ketimbang pun lalu diserang Belanda.
Dari tiga penjuru yang berbeda.
Walleson dari Gunung Rajabasa ke arah utara.
Van Costade melalu barat, menuju kelaut dan Kunyaian pasukan kedua.

Mayor Nauta dari Penengahan melalui hutan.
Untuk merebut Benteng Salai Tahunan.
Sebelum akhirnya Benteng Ketimbang jadi sasaran.
Karena disanalah basis terbesar perlawanan.

Sekitar pukul 12 siang, tatkala adzan sudah berkumandang.
27 agustus 1856 benteng Ketimbang serentak di serang.
Para syuhada tetap melawan, meski senjata tidak seimbang.
Akhirnya pukul 05 subuh Belanda menguasi benteng Ketimbang.

Radin Intan-2, wak Maas, Haji Wakhia dan Singa Branta.
Luput dari sergapan Belanda.
Dari sini, mulailah mereka bergerilya.
Di bantu seluruh Rakyat Lampung yg setia.

Dengan licik dan berbagai cara.
Belanda menangkap semua teman seperjuangan Radin intan-2.
09 september 1856, belanda menghukum mati haji Wakhia.
Dan tak lama, wak Maas tewas dalam pertempuran berikut nya.

Pahlawan Radin Intan-2 bersama sepupu juga, meninggal dunia.
Akibat penghianatan seorang kepala desa.
Meski melawan dengan segenap tenaga.
Apalah daya, Radin Intan-2 kalah dalam jumlah pasukan nya.

>pantun ini di sadur dari berbagai sumber.
TABIKPUN.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar